Sabtu, 07 November 2015





                   




Rendah diri atau minder bukan persoalan baru lagi. Apalagi di jaman modern seperti sekarang ini di mana segala sesuatu banyak diukur dengan materi. Orang-orang kaya dan makmur merasa dirinya terhormat, sedang orang yang hidupnya serba kekurangan merasa rendah atau hina. Semua ini tentu bukanlah kondisi yang sama-sama kita harapkan.
Orang bisa rendah diri karena alasan keadaan tubuh. Misalnya saja, tubuh terlalu pendek, terlalu kurus, terlalu jangkung, wajah tidak rupawan, bahkan mungkin ada titik-titik kecacatan tertentu. Dengan bahasa yang sederhana, penampilan nampak ‘kurang elok’. Adanya kekurangan-kekuarangan seperti ini menyebabkan seseorang menjadi minder. 
Ketika muncul penyakit yang bernama minder ini, dunia mendadak serasa sempit. Saat berkumpul dengan orang-orang yang punya kelebihan, hati dicekam berbagai perasaan yang menyiksa. Timbul rasa malu, gelisah, tidak tenang, merasa kecil, dan tidak berharga. Mulut pun menjadi bungkam seribu bahasa, selalu menghindari orang-orang. Kalau dipaksakan harus bersikap, tubuh tiba -tiba gemetar, keringat dingin mengucur, dan tingkah jadi serba salah.

Mengapa kita harus menyiksa diri? Perasaan minder itu tidak akan mengangkat martabat kita. Tapi sebaliknya, perasaan seperti itu sangat menyiksa. Apakah kita mau mengambil sikap yang menjanjikan dua kerugian sekaligus, rugi prestasi dan rugi hati? Rugi prestasi, artinya kita tidak mengalami kemajuan. Dan rugi hati, artinya perasaan kita terus tersiksa. Kalau di hadapan kita disajikan segelas racun, tentu kita akan menolak mentah-mentah. Kalau perlu menuntut orang yang menyajikan racun itu ke pengadilan. Dan di hadapan kita ini ada racun yang bernama minder. Akankah kita minum racun ini? Obat paling baik untuk mengatasi minder ini adalah iman pada Allah.
 Dalam Al Qur’an : “Sungguh Kami telah menciptakan manusia dalam sebaik-baik penciptaan.” (QS. At Tiin 95:4). Allah telah menciptakan kita lebih baik dari makhluk manapun. Ini adalah kebaikan yang patut disyukuri. Jika kita selalu memandang kekurangan, selamanya kita tak akan pernah puas. Jika kita mau mensyukuri, jiwa kita akan lapang. Tubuh, wajah, perawakan, kulit, dan lain-lain jika diterima dengan syukur, akan membuahkan kepuasan dalam hati. Mengapa harus melihat kekurangan, jika kita pun juga punya kelebihan?  Setiap orang punya kekurangan, namun mereka juga punya kelebihan tertentu. Dan rasa syukur atas kelebihan itu, sekecil apapun nilainya, akan mengundang kemurahan Allah. Jika kita ingkari nikmat-nikmat yang Allah berikan, pastilah kita akan merugi. Orang yang hidupnya tersiksa oleh perasaan minder adalah bukti kongkret dari balasan Allah bagi siapa saja yang menutup mata atas nikmat yang dikaruniakan-Nya.

Alasan rendah diri yang lain yang sering hinggap di hati para pemuda adalah minder karena alasan pekerjaan. Sebagian pemuda beruntung dapat pekerjaan yang baik, sedang yang lain terus luntang-lantung tidak karuan. Masalah pekerjaan, di sini ada yang perlu diluruskan. Orang menganggap pekerjaan itu identik dengan menjadi pegawai atau karyawan. Padahal tidak ada satu pun ayat yang mengatakan bahwa rezeki itu didapat hanya dengan menjadi pegawai atau karyawan. Jika kita tidak mendapat pekerjaan, saat ini juga kita bisa menciptakan pekerjaan. Mari kita mulai menciptakan kerja dengan terjun di dunia wirausaha.


Nama / Nim : Winda Rosma Dewi / 15. 0548
Dosen : Gregorius Daru Wijoyoko

Nabi Muhammad Pembela Kaum Difabel





Banyak orang yang melihat sosok Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wassalam dari perspektif yang berbeda. Bagi mereka yang melihat sosok Rasulullah dari sudut pandang yang positif, beliau digambarkan sebagai seorang pemimipin yang adil, prajurit yang pemberani serta seorang suami yang ideal. Sementara, banyak juga masyarakat yang menggambarkan sosok Nabi Muhammad dari sudut pandang negatif, menggambarkan beliau sebagai pedofil bahkan lebih kejam lagi, seorang “teroris”.
Namun dalam artikel ini, saya ingin menggambarkan sosok Nabi Muhammad dari sudut pandang yang lain. Tentang betapa pentingnya Rasulullah bagi kaum difabel (orang yang memiliki keterbatasan). Bagi saya atau bagi kaum difabel lainnya, Rasulullah Muhammad lebih dari sekedar inspirator. Bisa dikatakan, beliau adalah sosok pembela hak-hak kaum difabel. Bahkan lebih 1400 tahun yang lalu, beliau selalu berada di garis terdepan untuk memastikan bahwa orang-orang yang memiliki keterbatasan dipenuhi hak kebutuhannya. Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wassallam berusaha untuk mengubah cara pandang masyarakat terhadap kaum difabel dengan mengajarkan bahwa tak seharusnya ada stigma atau sikap negatif bagi mereka yang berkebutuhan khusus. Beliau menekankan bahwa disabilitas tidak mempengaruhi kesempurnaan mereka dimata Allah selama mereka memiliki iman yang kokoh. Nabi juga mengajarkan bahwa tak seperti kepercayaan banyak orang, disabilitas bukanlah hukuman dari Allah tetapi merupakan pengampunan atas dosa-dosa yang telah mereka lakukan.

Seperti sabda beliau, “Tiada seorang muslim tertusuk duri atau yang lebih dari itu, kecuali Allah mencatat baginya kebaikan dan menghapus darinya dosa.” (HR. Bukhari)

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassallam juga mengangkat harkat dan martabat kaum difabeldan menghapus kesedihan ataupun penderitaan yang mereka alami. Beliau selalu mengingatkan bahwa sesungguhnnya Allah tidak melihat tubuh dan rupa manusia, melainkan melihat hati mereka. Rasulullah benar-benar hadir sebagai penyejuk mereka yang memiliki keterbatasan, dan meningkatkan kepercayaan diri mereka. Tak lupa, Nabi juga melindungi hak asasi kaum difabel dan menghapuskan diskriminasi berlandaskan disabilitas, yang lazim sebelum datangnya Islam.

Dalam salah satu riwayat diceritakan, bahwa Nabi pernah menunjuk salah satu sahabat yang bernama Abdullah Bin Ummi Umm Maktum, seorang tuna netra sebagai muadzin. Abdullah bin Ummi Maktum seorang tuna-netra yang bergabung bersama orang-orang yang telah memeluk Islam dan dekat dengan Rasululllah. Meski matanya tak mampu melihat, ia diberi nikmat besar yang dikaruniakan Allah kepadanya. Ia memiliki naluri yang sangat peka untuk mengetahui waktu. Jika menjelang fajar, berbekal tongkat ia keluar dari rumahnya, menuju masjid dan mengumandangkan azan di masjid Rasul. Bersama Bilal bin Rabah, Abdullah selalu bergantian mengumandangkan azan. Bahkan pernah Rasulullah meminta Abdullah untuk memimpin kota Madinah saat Nabi berada di luar kota. Beliau meberikan kepercayaan yang luar biasa kepada kaum difabel. Baginya, keterbatasan Abdullah bukanlah hambatan dalam melaksanakan tanggung jawabnya. Ia ingin mengajarkan bahwa mereka yang berkebutuhan khusus tak sepatutnya direndahkan karena dibalik kekurangan mereka pasti tersimpan potensi untuk berkontribusi dan bermanfaat untuk orang-orang disekitarnya.
Memuliakan Julaibib
Ada kisah menarik tentang persahabatan Rasulullah Shallahau ‘Alaihi Wassallam dengan pria bernama Julaibib. Sahabat satu ini dijauhi oleh orang-orang disekitarnya karena memiliki tubuh yang pendek nan tak menawan. Karena fisiknya yang kurang menarik, masyarakat Kota Madinah kurang senang dengan keberadaannya di kota tersebut. Selepas peristiwa Hijrah, baginda Rasulullah menjadikan ia seorang teman, merawat, dan mengangkat martabatnya.

Dalam sebuah hadits diriwayatkan: “Sesungguhnya Julaibib ini sebagian daripada aku dan aku ini sebagian daripada dia.”
Rasulullah bahkan melamarkan seorang gadis cantik untuk Julaibib. Dari Anas bin Malik menuturkan, “Ada seorang sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam yang bernama Julaibib dengan wajahnya yang kurang tampan. Rasulullah menawarkan pernikahan untuknya. Dia berkata, “Kalau begitu aku orang yang tidak laku?” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam menjawab, “Engkau di sisi Allah orang yang laku.” (HR Ya’la). Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pun menikahkannya dengan Julaibib, serta mendoakannya, “Ya Allah! Limpahkan kepada keduanya kebaikan, dan jangan jadikan kehidupan mereka susah.”

Sikap Rasulullah merupakan gambaran nyata tentang bagaimana prinsip inklusi atau kesetaraan bagi kaum difabel harus diterapkan. Beliau melakukan advokasi, tindakan nyata dalam rangka mendidik umatnya mengenai pentingnya menerima, menyejahterakan, dan memberdayakan kaum difabel. Keteladanan lain yang diajarkan oleh Rasulullah adalah melarang umatnya untuk merendahkan atau mentertawakan mereka yang lahir tak sempurna.

Suatu hari, sahabat Abdullah Ibn Mas’ud, yang juga merupakan orang yang paling pandai dalam menafsirkan al Quran, memanjat sebuah pohon. Seketika angin terhembus sehingga kaki Abdullah terlihat. Beberapa sahabat yang melihat tertawa. Namun Nabi menegur mereka dengan berkata, “Apa yang membuat kalian tertawa? Ketahuilah bahwa di hari pembalasan kedua kaki Ibn Mas’ud akan lebih berat di timbangan daripada Gunung Uhud.” Dengan cara ini, Rasulullah mengingatkan umatnya agar tidak menertawakan kaum difabel, terutama terkait dengan penampilan fisik mereka. Nabi Muhammad bahkan sangat memahami kebutuhan mereka yang memiliki kebutuhan khusus. Sebagai contoh, bagi mereka yang tak mampu menunaikan Shalat sambil berdiri, diperbolehkan untuk melaksanakannya dengan duduk, dan seandainya mereka masih tak mampu, Rasulullah memperbolehkan mereka untuk shalat sambil berbaring. Ia juga bersabda bahwa yang membaca al Quran dengan terbata-bata, ia akan mendapatkan dua pahala dibanding mereka yang membaca dengan sempurna. Apa yang telah dilakukan oleh Baginda Nabi seharusnya menjadi bahan renungan untuk kita semua.

Hari ini orang-orang cacat sering dijadikan bahan cemoohan. Mereka terpinggirkan, diabaikan, bahkan seringkali dianggap sebagai sekelompok masyarakat yang lemah dan tidak berdaya. Rasulullah telah menjadi sumber inspirasi bagi saya dan kaum difabel di seluruh dunia. Beliau mengajak umat manusia untuk selalu peduli terhadap orang lain dengan menjanjikan bahwa siapa pun yang mampu mengatasi segala macam kesulitan yang orang hadapi di dunia ini, Allah akan menghapus kesulitan nya di akhirat nanti. 

Nama / Nim : Winda Rosma Dewi / 15. 0548
Dosen : Gregorius Daru Wijoyoko

Minggu, 01 November 2015

Teman Istimewa

TIGA TEMAN ISTIMEWA




Ubaid bin Umair berkata, “Ada seseorang yang memiliki tiga teman istimewa. Sebagian dianggap lebih istimewa dari yang lain. Suatu kali dia tertimpa suatu masalah. Diapun mendatangi teman pertamanya yang paling istimewa lalu berkata “Wahai kawan, saya sedang menghadapi masalah, aku ingin kamu bisa membantuku.” Teman pertama itu berkata “Aku tidak bisa membantumu.” Diapun beranjak menuju temannya kedua yang dia istimewakan setelah teman pertama, lalu dia berkata “Wahai kawan, aku sedang menghadapi masalah, aku ingin agar kamu sudi membantuku.” Teman keduanya menjawab “Baiklah, aku akan mengantarmu ke tempat tujuan, tapi setelah itu aku akan pulang meninggalkanmu.” Orang itupun mendatangi temannya yang ketiga, lalu berkata “Wahai kawan, aku sedang mengahadapi masalah, aku berharap kamu bisa membantuku.” Teman ketiganya menjawab “Baik aku akan menemanimu kemanapun kamu pergi, dan akan ikut masuk kemanapun kamu masuk.”
Kemudian Ubaid berkata, “Teman pertama adalah perumpamaan bagi harta yang dimiliki seseorang, yang sama sekali tidak mengikutinya saat dia mati. Teman kedua adalah keluarga dan kerabatnya, yang hanya mengantar sampai kuburnya, lalu pulang meninggalkannya. Sedangkan teman ketiga adalah amalnya, yang akan selalu menyertainya kemanapun dia pergi dan kemanapun dia masuk.” [Hilyatul Auliya, Abu Nu’aim al – Ashbahani 2/16]



Dosen : Gregorius Daru Wijoyoko